Grammarly Kini Menawarkan Ulasan ‘Pakar’ AI—Bahkan Dari Penulis yang Sudah Meninggal

13

Grammarly, perangkat lunak bantuan menulis, telah memperkenalkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menerima masukan atas karya mereka dari simulasi AI oleh penulis dan akademisi terkemuka – termasuk mereka yang telah meninggal dunia. Ekspansi ke AI generatif ini, yang merupakan bagian dari upaya rebranding yang lebih luas dengan nama baru Superhuman, menimbulkan pertanyaan etika yang serius mengenai kekayaan intelektual, persetujuan, dan komodifikasi keahlian.

Bangkitnya Alat Tulis Bertenaga AI

Grammarly telah berevolusi dari pemeriksa tata bahasa sederhana menjadi mitra penulisan AI yang komprehensif. Platform ini sekarang mencakup chatbots, alat parafrase, “humanizer” yang meniru gaya penulisan tertentu, dan bahkan penilai AI yang memprediksi kinerja akademik. Namun, tambahan yang paling kontroversial adalah opsi “Tinjauan Pakar”, yang menawarkan kritik yang konon terinspirasi oleh individu nyata, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Simulasi Keahlian: Hidup dan Mati

Pengguna kini dapat meminta masukan dari penulis versi virtual seperti Stephen King dan Neil deGrasse Tyson, serta dari mendiang William Zinsser dan Carl Sagan. Grammarly secara eksplisit menyatakan bahwa para ahli ini tidak memiliki afiliasi dengan produk, dan mengklarifikasi bahwa simulasi tersebut “untuk tujuan informasi saja.” Agen AI telah dilatih mengenai cara kerja tokoh-tokoh ini, namun legalitas pengambilan konten ini masih belum pasti.

Kekhawatiran dan Reaksi Etis

Praktik ini telah memicu kemarahan di kalangan akademisi dan penulis. Vanessa Heggie, seorang profesor di Universitas Birmingham, mengutuk Manusia Super karena “menciptakan LLM kecil” berdasarkan karya bekas, memperdagangkan nama dan reputasi tanpa persetujuan. Tersedianya masukan dari sejarawan yang telah meninggal, seperti David Abulafia, semakin memicu kontroversi.

Cara Kerja: Inspirasi vs. Dukungan

Grammarly mengklaim AI memberikan saran terinspirasi oleh karya para ahli ini, bukan dukungan langsung. Jen Dakin, manajer komunikasi Manusia Super, mengatakan alat ini bertujuan mengarahkan pengguna ke suara-suara berpengaruh untuk eksplorasi lebih lanjut. Namun, tinjauan independen menunjukkan bahwa AI secara aktif menggunakan “ide” dan “konsep” dari penulis yang sudah meninggal seperti William Strunk Jr. dan Margaret Mitchell.

Ketidakpercayaan dan Eksploitasi Akademik

Sejarawan C.E. Aubin berpendapat bahwa sistem ini memperkuat ketidakpercayaan yang mendalam terhadap AI dalam bidang humaniora. Dia menekankan bahwa para ahli sejati tidak dilibatkan dalam pembuatan ulasan-ulasan ini dan bahwa menjadikan beasiswa sebagai sekadar pekerjaan mengabaikan kepribadian ilmuwan tersebut. Praktik ini sangat mengerikan karena organisasi kemanusiaan menghadapi serangan yang terus-menerus dan pemotongan dana.

Efektivitas dan Deteksi

Alat AI baru ini bukannya tanpa kekurangan. Pemeriksa plagiarisme Grammarly gagal mendeteksi kutipan langsung dari The Simpsons, sehingga menyoroti keterbatasan kemampuan pendeteksiannya. Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, fitur ini mungkin mendorong siswa untuk mengandalkan AI dalam tugas akademisnya, sehingga berpotensi mengaburkan batasan antara bantuan dan kecurangan.

Masa Depan AI dalam Pendidikan

Perluasan alat tulis yang didukung AI menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan pendidikan. Beberapa pihak khawatir bahwa teknologi ini pada akhirnya akan menggantikan guru. Apakah hal ini merupakan hasil yang realistis masih harus dilihat, namun trennya menunjukkan semakin besarnya ketergantungan pada kecerdasan buatan dalam lingkungan akademis.

Kesimpulannya, fitur terbaru Grammarly mewakili langkah mengkhawatirkan dalam mengkomodifikasi karya intelektual dan mengeksploitasi warisan penulis dan cendekiawan tanpa persetujuan mereka. Implikasi etis dari simulasi keahlian – terutama dari almarhum – sangat besar, dan konsekuensi jangka panjang bagi dunia akademis masih belum pasti.