Pertandingan Mencerminkan Zaman: Politik dan Olimpiade Modern

19

Olimpiade Musim Dingin tahun 2026 di Milano Cortina diwarnai dengan tingkat pertikaian politik yang tidak biasa, yang menggambarkan tren yang berkembang: Olimpiade modern tidak lagi menjadi tontonan pelarian, namun menjadi arena di mana konflik nasional dan ideologi terjadi secara real-time. Mulai dari cemoohan yang ditujukan kepada Wakil Presiden JD Vance pada upacara pembukaan hingga para atlet yang secara terbuka mempertanyakan representasi mereka terhadap Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump, acara tersebut menggarisbawahi kebenaran sederhana: pemisahan olahraga dan politik adalah sebuah mitos.

Atlet Angkat Bicara di Tengah Kontroversi

Beberapa atlet Amerika menyatakan kegelisahannya berkompetisi untuk negara yang sedang dilanda kekacauan dalam negeri, khususnya mengenai tindakan ICE dan kebijakan pemerintah terhadap imigran dan komunitas LGBTQ+. Pemain ski gaya bebas Hunter Hess dengan blak-blakan menyatakan ketidaknyamanannya, dengan menjelaskan bahwa “hanya karena saya memakai bendera tidak berarti saya mewakili semua yang terjadi di AS.” Tokoh skater Amber Glenn juga menyuarakan sentimen serupa, dengan menggambarkan iklim saat ini sebagai katalisator persatuan di antara kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

Pernyataan-pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari Presiden Trump, yang menyebut Hess sebagai “Pecundang” di Truth Social, sementara Glenn menerima banyak ancaman, memaksanya untuk mundur dari media sosial. Respons ini menyoroti dinamika yang lebih luas: atlet yang menyimpang dari semangat nasionalis yang diharapkan akan menghadapi konsekuensi politik langsung.

Tren yang Berkembang: Atlet sebagai Aktivis

Ini bukanlah insiden yang terisolasi. Olimpiade 2026 mencerminkan ketegangan yang terlihat pada Olimpiade Musim Panas Paris 2024, di mana petinju Aljazair Imane Khelif menjadi pusat perdebatan mengenai atlet transgender, meskipun dirinya sendiri tidak mengidentifikasi dirinya sebagai transgender. Pola ini sudah ada sejak Olimpiade Mexico City tahun 1968, ketika Tommie Smith dan John Carlos menggunakan podium medali untuk memprotes ketidakadilan rasial.

Meningkatnya kemauan atlet untuk mempolitisasi platform mereka mencerminkan pergeseran budaya yang lebih luas. Seperti yang dikatakan oleh profesor media dan budaya populer Simone Driessen, “para atlet yang berani berbicara tentang keyakinan mereka adalah hal yang wajar.” Selebriti, termasuk musisi seperti Taylor Swift, telah bersikap politis secara terbuka, sehingga menjadi preseden bagi para atlet dengan visibilitas serupa. Tren ini diperburuk oleh media sosial, yang memperkuat dukungan dan kecaman.

Ilusi Olahraga Apolitik

Gagasan bahwa Olimpiade harus bersifat “apolitis” semakin tidak dapat dipertahankan. Seperti yang diungkapkan oleh atlet skater Adam Rippon, “sangat mustahil untuk percaya bahwa politik tidak terkait dengan segala sesuatu yang kita lakukan.” Iklim politik saat ini, khususnya di bawah pemerintahan Trump, telah menjadikan tindakan menyuarakan pendapat menjadi lebih berbahaya namun juga lebih penting. Para atlet kini menghadapi risiko dampak nyata jika mereka berbeda pendapat, namun suara mereka memberikan narasi tandingan terhadap pesan resmi.

Pergeseran ini bukan tentang memasukkan politik ke dalam Olimpiade – ini tentang mengakui bahwa politik selalu ada. Ilusi netralitas telah hancur, dan para atlet kini secara terbuka menantang ekspektasi bahwa mewakili suatu negara sama dengan mendukung kebijakannya. Olimpiade, disengaja atau tidak, telah menjadi cermin yang mencerminkan perjuangan dan perpecahan bangsa-bangsa di dunia nyata.

Kesimpulannya, Olimpiade Musim Dingin 2026 bukan sekedar acara olahraga; mereka adalah medan pertempuran budaya dan politik. Kesediaan para atlet untuk bersuara, meski mendapat reaksi keras, menggarisbawahi kebenaran yang tak terelakkan bahwa olahraga, seperti semua aspek kehidupan modern, sudah tertanam kuat dalam realitas politik.