Iran secara aktif terlibat dalam kampanye informasi yang agresif di samping tindakan militernya, memanfaatkan media dan jaringan sosial yang dikendalikan negara untuk memproyeksikan citra ketahanan dan bahkan kemenangan meskipun ada serangan signifikan dari Israel dan Amerika Serikat. Upaya ini memadukan pelaporan faktual dengan klaim yang dilebih-lebihkan atau dibuat-buat, termasuk konten yang dibuat oleh AI, untuk membentuk persepsi publik baik di dalam negeri maupun internasional.
Narasi yang Dibuat-buat
Menurut media pemerintah Iran, serangan balasan telah menimbulkan kerusakan besar di kota-kota Israel seperti Tel Aviv dan bahkan telah menenggelamkan kapal induk Amerika dengan ratusan korban jiwa di pangkalan dan kedutaan regional. Pesan-pesan ini memperkuat narasi kekuatan dan keberhasilan, yang menampilkan Iran tidak hanya mampu melawan namun juga unggul dalam konflik.
Namun gambaran ini sangat berbeda dengan kenyataan. Meskipun serangan balasan Iran telah menyebabkan kerusakan pada kota-kota Israel dan fasilitas-fasilitas Amerika, tingkat kerusakan dan korban jiwa sebenarnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang dilaporkan oleh media-media yang dikontrol negara.
“Iran membanjiri zona tersebut dengan konten yang memproyeksikan kekuatan setelah serangan, sekaligus memutarbalikkan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam negeri,” jelas Moustafa Ayad, peneliti di Institute for Strategic Dialogue.
Bangkitnya Disinformasi Berbasis AI
Penggunaan media sosial dan kecerdasan buatan telah memperkuat jangkauan dan efektivitas kampanye pengaruh. Strategi ini mencerminkan taktik yang digunakan Rusia di Ukraina, dan Iran juga mengadopsi metode serupa sebagai sekutunya. Integrasi AI memungkinkan produksi konten yang meyakinkan namun salah secara cepat, sehingga lebih sulit membedakan antara kenyataan dan propaganda.
Penanggulangan dan Keterbatasan
Musuh-musuh Barat, termasuk Amerika Serikat dan Israel, secara aktif berupaya untuk membantah klaim Iran. Israel secara langsung menargetkan infrastruktur penyiaran negara Iran melalui serangan udara, sementara kedua negara secara selektif mengelola informasi mengenai kerusakan yang mereka alami untuk mengendalikan narasi tersebut.
Namun, terlepas dari upaya-upaya penanggulangan ini, sifat media sosial yang menyebar luas dan disinformasi yang dihasilkan oleh AI menghadirkan tantangan yang signifikan. Kemampuan untuk dengan cepat menyebarkan laporan palsu atau berlebihan menyulitkan upaya melawan penyebaran informasi yang salah, terutama di wilayah dengan literasi media yang terbatas atau akses terbatas terhadap jurnalisme independen.
Pada akhirnya, strategi perang informasi Iran menggarisbawahi semakin pentingnya manipulasi media dalam konflik modern. Dengan mengendalikan narasi yang ada, negara ini bertujuan untuk meningkatkan moral dalam negeri, melemahkan musuh-musuhnya, dan membentuk opini internasional yang menguntungkan negaranya.






















