The Science of the Hive Mind: Mendekonstruksi Kolektif dalam ‘Pluribus’

7

Premis acara Pluribus —sarang pikiran yang menyebar dengan cepat dan menginfeksi umat manusia melalui RNA alien—menimbulkan pertanyaan menarik: seberapa masuk akal fenomena seperti itu dari sudut pandang ilmiah? Pertunjukan ini bertumpu pada kesadaran kolektif yang ditransmisikan melalui gelombang radio, mengubah orang yang terinfeksi menjadi satu kesatuan. Walaupun bersifat fiktif, konsep intinya mengundang analisis tentang bagaimana sistem tersebut dapat berfungsi secara teoritis, dan keterbatasan apa yang akan dihadapinya.

Dasar Biologis Penularan Kolektif

Ide utama acara ini adalah bahwa individu yang terinfeksi (“plurb”) berkomunikasi melalui emisi gelombang radio yang tidak disadari. Hal ini bergantung pada asumsi bahwa tubuh manusia dapat bertindak sebagai pemancar dan penerima, memanfaatkan aktivitas listrik yang melekat pada sistem saraf. Premis acara tersebut menunjukkan sebuah peradaban yang mampu memanipulasi fungsi biologis ini untuk menciptakan pikiran sarang.

Sistem saraf manusia beroperasi berdasarkan sinyal listrik, menggunakan ion bermuatan, bukan elektron. Jika entitas asing dapat memanfaatkan hal ini, dan secara efektif mengubah setiap individu menjadi pemancar radio berdaya rendah, maka dampaknya akan sangat besar. Kemampuan untuk melewati hambatan komunikasi tradisional dan mencapai transfer informasi yang lancar akan mendefinisikan kembali kesadaran itu sendiri.

Fisika Jangkauan Kolektif

Jika plurb beroperasi sebagai pemancar radio, jangkauan efektifnya dibatasi oleh keluaran daya dan degradasi sinyal. Acara tersebut memperkirakan keluaran daya metabolisme sebesar 80 watt per orang, dengan 10% didedikasikan untuk transmisi (8 watt). Dengan asumsi emisi isotropik, sinyal melemah seiring dengan jarak. Dengan menggunakan ambang deteksi sebesar 1 mikrowatt per meter persegi, perkiraan jangkauan komunikasi maksimum kira-kira 798 meter (setengah mil).

Kisaran ini menyoroti kerentanan utama: efektivitas pikiran sarang berkurang dengan cepat seiring bertambahnya jarak. Komunikasi yang diperluas memerlukan sistem amplifikasi atau relai, yang berpotensi menimbulkan tanda tangan yang dapat dideteksi. Penelitian ini meremehkan kendala logistik ini, dan menunjukkan jaringan global yang lebih mulus dibandingkan yang dimungkinkan oleh ilmu fisika.

Mekanisme Transmisi Sinyal: AM dan FM

Pertunjukan tersebut menyentuh bagaimana plurb dapat menyandikan informasi menggunakan modulasi radio. Modulasi amplitudo (AM) melibatkan memvariasikan intensitas gelombang pembawa, sedangkan modulasi frekuensi (FM) mengubah frekuensi. Kedua metode ini memungkinkan pengkodean digital, menerjemahkan pikiran dan perasaan ke dalam data biner.

Namun, persepsi pendengaran manusia membatasi bandwidth. Sinyal di bawah 20 Hz atau di atas 20 kHz tidak dapat dideteksi tanpa konversi. Hal ini menunjukkan bahwa plurb beroperasi di luar jangkauan pendengaran manusia atau menggunakan metode transmisi yang lebih canggih (dan tidak terdeteksi). Penyebutan frekuensi tertentu dalam acara tersebut (8.613 kHz) mengisyaratkan saluran komunikasi potensial, meskipun keterbatasan deteksi manusia tetap signifikan.

Melindungi Terhadap Kolektif: Kandang Faraday

Pertunjukan tersebut mengusulkan sangkar Faraday sebagai sarana untuk mengganggu pikiran sarang. Penutup logam ini tidak menghalangi gelombang elektromagnetik melainkan menginduksi gelombang berlawanan yang membatalkan sinyal masuk. Efektivitasnya bergantung pada perlindungan lengkap, mencegah kebocoran.

Konsep ini menyoroti potensi kelemahan dalam metode transmisi pikiran sarang. Mengganggu medan elektromagnetik di sekitar seseorang dapat memutuskan hubungan mereka dengan kolektif, dan secara teoritis memulihkan otonomi. Namun, perlindungan lengkap sulit dicapai, dan pikiran sarang mungkin beradaptasi dengan memanfaatkan frekuensi atau metode transmisi yang berbeda.

Implikasi dan Kesimpulan

Ilmu pengetahuan di balik Pluribus adalah eksperimen pemikiran, yang mendorong batas-batas masuk akal secara biologis dan fisik. Meskipun sarang pikiran yang berfungsi penuh yang ditransmisikan melalui gelombang radio menghadapi kendala logistik yang signifikan, konsep intinya menimbulkan pertanyaan tentang sifat kesadaran, komunikasi, dan kecerdasan kolektif. Skenario fiksi acara tersebut memaksa kita untuk mempertimbangkan implikasi etis dan praktis dari dunia di mana individualitas dimasukkan oleh kesadaran yang bersatu.

Premis yang mendasarinya, meskipun spekulatif, memberikan kerangka kerja yang menarik untuk mengeksplorasi batas-batas hubungan antarmanusia dan potensi bahaya dari kemajuan teknologi yang tidak terkendali.