Ekspansi AI Microsoft: Penggunaan Air Akan Meningkat Meskipun Ada Janji Sebelumnya

23

Microsoft, yang merupakan pendukung utama konservasi air, kini memperkirakan peningkatan dramatis dalam konsumsi air seiring dengan perluasan infrastruktur pusat datanya untuk memenuhi tuntutan ledakan kecerdasan buatan. Proyeksi internal perusahaan menunjukkan bahwa meskipun terdapat komitmen sebelumnya untuk mengurangi penggunaan air, permintaan diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030.

Komitmen Awal vs. Kenyataan Saat Ini

Pada tahun 2020, Presiden Microsoft Brad Smith secara terbuka menekankan pentingnya konservasi air, berjanji untuk mengurangi penggunaan air di pusat data globalnya dan berinvestasi dalam proyek restorasi. Namun, pesatnya pertumbuhan teknologi AI telah mendorong lonjakan pembangunan pusat data, yang secara langsung bertentangan dengan janji-janji sebelumnya. Perkiraan awal dari tahun lalu menunjukkan bahwa kebutuhan air akan tiga kali lipat pada tahun 2030, mencapai 28 miliar liter setiap tahunnya.

Revisi Proyeksi dan Ekspansi yang Berkelanjutan

Berdasarkan pengawasan dari The New York Times, Microsoft merevisi proyeksinya menjadi 18 miliar liter pada tahun 2030—masih meningkat 150% dari angka pada tahun 2020. Perkiraan yang direvisi ini tidak termasuk kesepakatan pusat data senilai lebih dari $50 miliar yang ditandatangani baru-baru ini, yang berarti permintaan air sebenarnya bisa lebih tinggi lagi. Perusahaan mengaitkan penurunan proyeksi ini dengan teknologi baru yang menghemat air dan data fasilitas yang lebih baik, namun tren mendasarnya tetap jelas: perluasan AI mendorong peningkatan konsumsi air.

Dampak di Daerah yang Kekurangan Air

Dampak yang paling signifikan akan dirasakan di daerah-daerah yang sudah mengalami kelangkaan air yang parah. Proyeksi Microsoft untuk Jakarta, Indonesia—sebuah kota yang tenggelam karena penipisan akuifer—pada awalnya memperkirakan penggunaan air empat kali lipat pada tahun 2030, meskipun perusahaan kemudian merevisi angka ini menjadi peningkatan yang masih cukup besar. Demikian pula, di wilayah Phoenix yang dilanda kekeringan, Microsoft sebelumnya memperkirakan pengambilan air akan melebihi semua lokasi lainnya pada tahun 2030, meskipun perkiraan ini juga dikurangi dengan penyesuaian suhu operasional.

Tren yang Lebih Besar

Pergeseran ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara tujuan keberlanjutan perusahaan dan tuntutan sumber daya dari teknologi baru. Perkembangan AI memerlukan daya komputasi yang sangat besar, yang pada gilirannya memerlukan peningkatan konsumsi energi dan air untuk mendinginkan pusat data. Meskipun Microsoft mengklaim menerapkan langkah-langkah penghematan air, skala ekspansinya menunjukkan bahwa upaya ini mungkin tidak cukup untuk mengimbangi peningkatan permintaan secara keseluruhan.

Tindakan perusahaan ini menimbulkan pertanyaan penting: dapatkah raksasa teknologi menyelaraskan komitmen publik mereka terhadap keberlanjutan dengan realitas lingkungan dari pertumbuhan pesat industri padat sumber daya? Jawabannya kemungkinan besar akan menentukan apakah pengembangan AI akan menjadi kekuatan positif atau negatif bagi ketahanan air global.