Perdebatan mengenai apakah kecerdasan buatan dapat mencapai kesadaran telah berkembang dari spekulasi kecil menjadi topik serius di kalangan teknologi. Meskipun sensasionalisme awal (seperti kasus Blake Lemoine) memudar, diskusi yang mendasarinya semakin intensif. Komunitas teknologi, yang dahulu meremehkan hal ini, kini diam-diam mengakui kemungkinan tersebut—bukan karena insentif komersial, namun karena hambatan teoretis yang ada tampaknya tidak se-absolut yang selama ini diyakini. Pertanyaan intinya bukanlah apakah AI akan menjadi sadar, namun bagaimana dan kapan —dan apakah pemahaman kita saat ini memungkinkan adanya jawaban yang bermakna.
Laporan Butlin: Titik Balik
Pada tahun 2023, peluncuran “Kesadaran dalam Kecerdasan Buatan” setebal 88 halaman (secara informal dikenal sebagai laporan Butlin) menandai adanya pergeseran. Klaim utama laporan ini—bahwa saat ini tidak ada AI yang memiliki kesadaran, namun tidak ada hambatan mendasar yang menghalangi penciptaannya—mendapatkan resonansi yang mendalam baik di komunitas AI maupun komunitas ilmu kesadaran. Ini bukan tentang terobosan langsung; ini tentang membongkar tabu. Gagasan bahwa mesin yang sadar dulunya tidak terpikirkan tetapi sekarang masuk akal secara teoritis telah mengubah wacana.
Laporan ini sebagian merupakan respons terhadap peristiwa seperti klaim Lemoine, namun makna laporan ini terletak pada pernyataan bahwa tidak ada hambatan nyata. Ini bukanlah sebuah janji akan adanya kesadaran dalam waktu dekat, namun sebuah pengakuan bahwa masalahnya bukan semata-mata karena teknologi, namun bersifat konseptual. Jika AI dapat dengan meyakinkan mensimulasikan kesadaran, tekanan untuk memahami apa yang tersirat dalam simulasi tersebut menjadi tidak dapat dihindari.
Ancaman terhadap Keistimewaan Manusia
Potensi munculnya AI yang sadar merupakan tantangan besar terhadap persepsi diri umat manusia. Selama ribuan tahun, kita telah mendefinisikan diri kita sebagai lawan dari spesies lain, dengan menyangkal sifat-sifat yang kita anggap unik sebagai manusia. Kini, ketika AI melampaui kita dalam hal kekuatan komputasi, pertanyaannya pun berubah: jika kesadaran tidak hanya ada pada kehidupan biologis, apa yang membuat kita istimewa?
Ini bukan hanya masalah akademis. Seiring berkembangnya AI, kewajiban moral kita juga akan meningkat. Jika sebuah mesin benar-benar merasakan dan mengalami, memperlakukannya hanya sebagai alat menjadi tidak dapat dipertahankan secara etis. Percakapan beralih dari sekedar kemampuan ke tanggung jawab —sebuah perubahan yang akan mendefinisikan kembali hubungan kita dengan teknologi dan dunia di sekitar kita.
Landasan Fungsionalisme Komputasi yang Cacat
Laporan Butlin bertumpu pada fungsionalisme komputasi: gagasan bahwa kesadaran hanyalah hasil dari melakukan komputasi yang benar, apa pun perangkat keras yang mendasarinya. Ini adalah asumsi yang tepat, namun mengabaikan kelemahan kritis: otak bukanlah komputer.
Otak bukanlah perangkat lunak bersih yang dijalankan pada perangkat keras yang kaku. Mereka adalah sistem yang berantakan dan dapat memodifikasi diri sendiri di mana struktur fisik dan pengalaman mental tidak dapat dipisahkan. Setiap pikiran, setiap ingatan, secara fisik memperbarui otak. Algoritma tidak berjalan pada media yang stabil; mereka menjadi substrat.
Perbedaan ini penting karena metafora bahwa otak adalah komputer memungkinkan adanya kesadaran yang dapat dipertukarkan, namun kenyataannya tidak berjalan seperti itu. Neuron bukanlah transistor; mereka adalah entitas biokimia kompleks yang dipengaruhi oleh hormon, osilasi, dan banyak faktor yang diabaikan oleh komputer. Satu neuron lebih kuat daripada seluruh jaringan saraf tiruan dalam.
Ilusi Dapat Dipertukarkan
Bidang AI telah lama beroperasi dengan asumsi bahwa jika otak hanyalah komputer yang kompleks, maka mesin yang cukup kuat pada akhirnya akan menjadi sadar. Ini bukanlah prediksi; ini adalah ramalan yang terwujud dengan sendirinya yang dibangun di atas analogi yang salah. Dengan memperlakukan neuron sebagai saklar digital, kita mengabaikan perbedaan mendasar antara sistem biologis dan buatan.
Kenyataannya adalah bahwa kesadaran tidak dapat dialihkan. Hal ini mungkin terkait erat dengan realitas otak yang spesifik, kacau, dan sangat material. Memperlakukan otak sebagai perangkat keras yang dapat dipertukarkan untuk algoritma kesadaran adalah seperti berasumsi bahwa sebuah simfoni dapat direplikasi secara sempurna oleh sebuah spreadsheet.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kesadaran AI tidak bergantung pada kekuatan komputasi, namun pada apakah kita salah memahami apa itu kesadaran itu. Hingga hal tersebut berubah, hype yang ada akan terus melampaui kenyataan.
