Digital Stalking Dijual: Bagaimana Komunitas Telegram Mengaktifkan Pelecehan yang Ditargetkan

17

Investigasi baru-baru ini yang dilakukan oleh kelompok nirlaba AI Forensics telah mengungkap ekosistem yang mengganggu di Telegram, tempat ribuan pria berkumpul untuk berdagang alat pengawasan, gambar intim non-konsensual, dan pelecehan yang ditargetkan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa ruang digital ini tidak hanya digunakan untuk berbagi konten ilegal, namun juga berfungsi sebagai pasar aktif untuk alat yang dirancang untuk memata-matai mitra, teman, dan bahkan orang asing.

Skala Penyalahgunaan

Selama studi enam minggu, para peneliti menganalisis hampir 2,8 juta pesan di 16 komunitas Telegram Italia dan Spanyol. Temuan ini memberikan gambaran tentang jaringan pelecehan yang sangat terorganisir dan produktif:

  • Partisipasi Besar-besaran: Lebih dari 24.000 anggota berkontribusi pada penyebaran lebih dari 82.000 file gambar, video, dan audio.
  • Beragam Konten yang Melecehkan: Kelompok ini memfasilitasi perdagangan layanan “nudifikasi” (pornografi yang dihasilkan oleh AI), doxing (melepaskan informasi pribadi), dan konten yang jauh lebih ekstrem, termasuk materi pelecehan seksual terhadap anak-anak.
  • Pelecehan yang Ditargetkan: Meskipun selebriti dan influencer sering menjadi sasaran, sebagian besar kekerasan ditujukan kepada perempuan biasa —sering kali adalah individu yang dikenal oleh pelaku, seperti istri, pacar, atau mantan pasangan.

Pasar untuk Spyware dan Peretasan

Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari laporan ini adalah komodifikasi penguntitan digital. Studi ini mengidentifikasi lebih dari 18.000 referensi tentang layanan mata-mata atau pengawasan.

Pengguna di saluran ini secara aktif mengiklankan “peretasan profesional berdasarkan komisi”, yang menjanjikan layanan seperti:
– Mendapatkan akses tidak sah ke galeri ponsel seseorang untuk mengekstrak foto dan video.
– Peretasan media sosial “Anonim”.
– Memata-matai akun pribadi mitra.
– Menyediakan bot yang dirancang khusus untuk “memata-matai galeri seorang gadis”.

Meskipun para peneliti tidak dapat memverifikasi apakah setiap alat yang diiklankan benar-benar berfungsi, keberadaan pasar-pasar ini menciptakan hambatan masuk yang rendah bagi pelaku kekerasan dalam rumah tangga dan penguntit untuk melakukan kontrol terhadap korbannya.

“Masalah Telegram”: Anonimitas vs. Akuntabilitas

Temuan ini menempatkan Telegram di bawah pengawasan ketat. Meskipun platform ini memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan dan memposisikan dirinya sebagai pendukung kebebasan berpendapat, para kritikus berpendapat bahwa arsitekturnya sedang dijadikan senjata.

“Telegram menonjol karena menawarkan anonimitas, kecepatan, dan jaringan besar pengguna yang berpikiran sama,” kata Adam Dodge, pendiri EndTAB. “Pasar pelecehan berbasis gambar akan selalu muncul… terutama ketika mereka tidak hanya mendistribusikan gambar non-konsensual tetapi juga dengan mudah menyediakan akses ke alat dan taktik untuk mendapatkannya.”

Pertahanan Platform:
Telegram menyatakan bahwa mereka secara aktif memerangi konten ini. Seorang juru bicara menyatakan bahwa perusahaan:
– Menghapus “jutaan” konten setiap hari menggunakan AI khusus.
– Memiliki kebijakan ketat terhadap gambar non-konsensual, doxing, dan barang ilegal.
– Mengklaim telah memblokir hampir 12 juta grup dan saluran tahun ini, termasuk ribuan yang terkait dengan materi pelecehan seksual terhadap anak.

Namun, para peneliti berpendapat bahwa banyaknya jumlah pengguna dan model platform yang berpusat pada privasi membuat pengawasan secara efektif sulit dilakukan. Hal ini menyebabkan seruan agar Telegram diklasifikasikan sebagai “platform online yang sangat besar” berdasarkan Undang-Undang Layanan Digital Eropa, yang akan memberlakukan kewajiban peraturan yang lebih ketat.

Pola Kekerasan Digital yang Global

Ini bukanlah kejadian yang terisolasi. Laporan AI Forensics mencatat bahwa jaringan-jaringan ini adalah bagian dari tren penyalahgunaan teknologi yang lebih luas dan global:
China: Kelompok besar (hingga 65.000 anggota) ditemukan menjual gambar intim.
Inggris Raya: Grup Telegram telah digunakan untuk melacak dan melakukan dox terhadap wanita dari grup kencan Facebook.
Eropa: Pola berbagi gambar dan pelecehan serupa telah didokumentasikan di Jerman, Portugal, dan Italia.

Tema yang berulang kali muncul adalah selama platform digital menawarkan tingkat anonimitas yang tinggi dan moderasi yang rendah, platform tersebut akan terus berfungsi sebagai penghubung bagi mereka yang berupaya melewati batas-batas hukum dan sosial untuk merugikan orang lain.


Kesimpulan: Maraknya layanan peretasan dan “nudifikasi” khusus di Telegram menunjukkan bagaimana alat digital digunakan untuk memfasilitasi kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual yang meluas. Ekosistem yang berkembang ini menyoroti adanya ketegangan kritis antara privasi pengguna dan kebutuhan mendesak akan akuntabilitas platform untuk melindungi individu yang rentan.