Mengapa Lonjakan Inflasi Pasca-Pandemi Terjadi

5

Itu bukan hanya sekejap. Itu adalah badai logistik yang rusak dan dompet yang meluap-luap.

Pabrik-pabrik tutup. Port macet. Truk-truk menganggur. Rantai pasokan global terpecah akibat lockdown, menyebabkan rak-rak menjadi kosong dan gudang menjadi kacau. Lalu datanglah pemeriksaan stimulus. Pemerintah mencetak uang. Suku bunga mencapai nol. Orang punya uang tunai tapi tidak ada yang bisa dibeli.

Ketidaksesuaian tersebut—terlalu banyak uang yang mengejar terlalu sedikit barang—adalah definisi buku teks tentang inflasi tarikan permintaan. Namun kenyataannya lebih kacau. Hal ini juga merupakan tekanan biaya. Kekurangan tenaga kerja berarti upah harus naik. Penundaan pengiriman dikenakan biaya tambahan di setiap langkah. Harga energi melonjak, sehingga menaikkan harga segala sesuatu mulai dari alpukat hingga aluminium.

Hasilnya? Lonjakan inflasi paling tajam dalam beberapa dekade terakhir. Bukan kenaikan yang lembut. Sebuah dinding.

“Dengan terlalu banyak uang yang mengejar terlalu sedikit barang, harga mulai naik.”

Ini bukan sekedar nasib buruk. Hal ini merupakan benturan dua kekuatan besar: keruntuhan pasokan dan ledakan permintaan. Ketika terjadi pada saat yang sama, harga tidak naik begitu saja. Mereka melompat.

Siapa yang paling merasakannya? Setiap orang. Tapi rasa sakitnya tidak merata. Mereka yang memiliki tabungan bernasib lebih baik. Mereka yang hidup dari gaji ke gaji melihat anggaran mereka hilang dalam semalam. Federal Reserve harus memilih: membiarkan inflasi memanas atau menghancurkan permintaan dengan kenaikan suku bunga. Mereka memilih yang terakhir.

Dan dunia menyesuaikan diri. Atau mencoba. Beberapa sektor pulih dengan cepat. Yang lain masih mengejar. Pelajarannya? Sistem global sangatlah rapuh. Dan ketika rusak, semua orang menanggung akibatnya.